Kamis, 21 Februari 2013

ALLAH JURUSELAMAT

Baca: 1 Timotius 1:1-2

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, pengharapan kita. (1 Timotius 1:1)


Bacaan Alkitab Setahun:
Bilangan 19-20


Sebagai orang Kristen, jika ditanya siapakah Juruselamat kita, pastilah kita akan menjawab: Yesus Kristus. Tetapi, dalam bacaan hari ini, Allah, bukan Yesus Kristus, yang disapa sebagai Juruselamat (1a). Rupanya sebutan Allah Sang Juruselamat lazim dipakai oleh orang Kristen mula-mula, seperti tercermin di dalam surat-surat pastoral (lih. 1 Tim. 2:3, 4:10).
Apakah yang hendak ditekankan melalui penggunaan frasa ini? Bahwa Allah adalah sumber keselamatan. Dengan kata lain, kesadaran atas maksud keselamatan Allah bagi umat-Nya adalah dasar iman kita.

Karya keselamatan Allah itu menuntun kita kepada keyakinan bahwa Kristus adalah pengharapan kita (1b). Yesus adalah sumber kehidupan kekal yang menanti kita, juga dasar bagi kemuliaan yang akan diterima umat-Nya saat Dia datang kembali kelak. Karya keselamatan Allah itu mewujud di dalam diri Yesus Kristus. Paulus dan Timotius, yang diakui sebagai anaknya yang sah, mendapatkan panggilan untuk mengambil bagian dalam pelayanan mewartakan keselamatan tersebut.

Dasar iman ini mengingatkan kita bahwa pelayanan yang terlepas dari kesadaran akan karya keselamatan dan kehendak Allah hanya mendatangkan kesia-siaan. Surat Paulus kepada Timotius ini tidak hanya menyapa Timotius, tetapi juga menyapa kita, pengikut Kristus pada masa kini. Kita juga dipanggil Tuhan sebagai utusan-Nya untuk mengabarkan keselamatan. Ya, setelah menerima anugerah keselamatan, kita pun mendapatkan kehormatan untuk mewartakan kabar kesukaan itu.—ENO
ORANG YANG TELAH MENERIMA KARYA KESELAMATAN ALLAH
AKAN TERPANGGIL UNTUK MEWARTAKAN KABAR KESUKAAN ITU
Rabu, 20 Februari 2013

BUKAN PENCITRAAN

Baca: Amsal 10:26-32

Bibir orang benar tahu akan hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik hanya tahu tipu muslihat. (Amsal 10:32)


Bacaan Alkitab Setahun:
Bilangan 16-18


Ibrani 11 sebuah pasal yang unik. Isinya biografi singkat sekian banyak tokoh iman Perjanjian Lama. Menariknya, penulis hanya menderetkan kemenangan iman mereka, tanpa menyebutkan satu pun kegagalan mereka. Jika saat ini terbit biografi semacam itu, yang isinya hanya hal positif tentang si tokoh, orang bisa jadi akan mencibir. Buku itu, terutama bagi yang mengenal kehidupan si tokoh, akan dianggap sebagai pencitraan belaka. Apakah penulis kitab Ibrani juga melakukan pencitraan?

Salomo mengingatkan, tidak semua hal perlu dibicarakan. Kita perlu memilahnya secara arif. Inilah tampaknya yang dilakukan penulis Ibrani. Meskipun setiap tokoh memiliki kelemahan, bahkan ada yang melakukan dosa mengerikan, ia memilih tidak membeberkan dan mengungkitnya kembali. Ia memilih menyoroti iman mereka (frasa “karena iman” muncul 19 kali dalam Ibrani 11). Ini bukan pencitraan; ini sudut pandang Allah yang penuh anugerah terhadap mereka. Allah memperhitungkan iman mereka, bukan menimbang antara perbuatan baik dan perbuatan buruk mereka. Bukankah ini kabar baik yang menyenangkan, yang membangkitkan sukacita?

Sebagai penerima anugerah, kita bersukacita karena Allah telah mengampuni segala dosa kita dan tidak lagi mengungkit kesalahan kita, namun merayakan kemenangan kita bersama-Nya. Kiranya sukacita itu melimpah dalam hubungan kita dengan sesama: kita memilih untuk mengampuni dan melupakan kesalahan mereka, serta lebih senang membicarakan hal-hal yang membangun iman satu sama lain.—ARS
PENCITRAAN MENONJOLKAN KEBAIKAN DAN KEUNGGULAN MANUSIA;
ANUGERAH MENONJOLKAN KEBAIKAN DAN KEUNGGULAN ALLAH
Selasa, 19 Februari 2013

BAU DAN KOTOR

Baca: Lukas 15:11-24

...Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. (Lukas 15:20)


Bacaan Alkitab Setahun:
Bilangan 14-15


Salah satu pengalaman yang tidak mengenakkan saat naik kendaraan umum adalah jika ada orang yang berbau dan kotor duduk di sebelah kita. Orang itu memang berhak untuk naik kendaraan itu dan duduk di bangku mana pun yang tersedia. Tetapi, karena keadaannya, kita merasa tidak nyaman sehingga akhirnya memilih untuk pindah tempat, menjauh dari orang tersebut.

Itulah reaksi normal orang yang bersih badannya terhadap orang yang berbau dan kotor. Karena itu, reaksi sang ayah dalam perumpamaan Yesus kali ini sangatlah tidak normal. Sangat luar biasa. Kita dapat membayangkan bagaimana keadaan si anak bungsu saat itu. Sebagai penjaga babi yang miskin, ia pasti kotor dan berbau binatang jorok itu. Sebaliknya, sang ayah adalah orang yang bersih dan terhormat. Tetapi, ketika sang ayah melihat si anak bungsu nun di kejauhan, ia berlari untuk menyambutnya. Bukan itu saja, sang ayah kemudian merangkul, mencium, dan menggelar pesta baginya (ay. 20, 23)! Apakah yang mendorong ayah tersebut untuk berbuat demikian? Tidak lain adalah karena cinta dan kerinduannya yang begitu besar kepada anaknya yang sudah lama hilang dan sekarang kembali (ay. 24).

Demikianlah juga keadaan kita di hadapan Allah. Dosa membuat kita berbau, kotor, menjijikkan, dan tidak layak datang mendekat kepada-Nya. Tetapi, kita tidak perlu takut akan ditolak jika kita datang kepada-Nya dan meminta ampun. Kasih-Nya begitu besar kepada kita sehingga selama kita mau bertobat dan kembali kepada-Nya, Dia akan menyambut kita dengan penuh sukacita.—ALS
DOSA MENJADIKAN KITA KOTOR, NAJIS, DAN BERBAU
KASIH ALLAH MEMELUK DAN MENGUDUSKAN KITA
Senin, 18 Februari 2013

MEMBIARKAN YUE YUE

Baca: 2 Timotius 3:1-9

Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri... (2 Timotius 3:1-2)


Bacaan Alkitab Setahun:
Bilangan 10-11


Yue Yue, gadis cilik berumur 2 tahun, tergeletak di jalan karena ditabrak sebuah mobil van di Foshan, Guang Dong, China. Banyak orang—mulai dari yang berjalan kaki, yang bersepeda, sampai yang bermobil—melewatinya. Akan tetapi, mereka berlalu begitu saja, membiarkannya terkapar bersimbah darah, sampai sebuah truk melindasnya kembali.

Kejadian ini salah satu potret pedih akan betapa semakin tipisnya kepedulian sosial di dunia ini. Ya, bukan hanya di China, di berbagai belahan bumi lain pun kita kerap diperhadapkan pada sikap acuh tak acuh yang memilukan seperti itu. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita akan datangnya masa-masa seperti ini. Masa ketika manusia lebih mencintai dirinya sendiri dan ketika kasih manusia terhadap sesamanya semakin dingin. Banyak orang semakin menggebu-gebu mengejar kesuksesan dan ambisi pribadinya sehingga akhirnya menjadi hamba uang. Hanya keuntungan materiil yang diperhitungkan, termasuk dalam berhubungan dengan sesama. Tidak sedikit pula yang rajin beribadah, namun mengingkari kekuatan ibadah itu sendiri karena mereka tidak menjadi pelaku firman (ay. 1-6).

Kondisi itu semakin hari akan semakin intensif belaka. Namun, orang percaya semestinya tidak terhanyut oleh kecenderungan tersebut. Tuhan menghendaki umat-Nya hidup dengan sikap yang berbeda dari dunia. Kita adalah tubuh-Nya di dunia ini, yang berperan untuk menyatakan kasih kepedulian-Nya kepada orang-orang di sekitar kita, khususnya mereka yang telantar dan tersisih.—SST
DUNIA DAPAT MERASAKAN KASIH ALLAH YANG TIDAK KELIHATAN
MELALUI KARYA DAN PELAYANAN GEREJA-NYA YANG KELIHATAN
Minggu, 17 Februari 2013

Mengasihi Orang Gila

Baca: 1 Korintus 13:1-13

Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih! (1 Korintus 16:14)


Bacaan Alkitab Setahun:
Bilangan 8-9


Badannya tegap dan hatinya lembut. Umurnya sudah 50-an. Ia mengurusi orang gila yang berkeliaran di jalan. Ia membawa mereka ke rumahnya, memandikan mereka sampai bersih. Dengan dibantu istri dan beberapa pegawai, ia lalu membimbing orang-orang itu dengan sabar dan tekun sampai mereka kembali hidup normal. Ia berkarya tanpa pamrih, tanpa menuntut imbalan. Ia merindukan jiwa-jiwa itu mengalami keselamatan dan pembebasan. Jerih lelahnya tergantikan oleh sukacita saat menyaksikan mereka menyambut kasih Tuhan dan dipulihkan.

Tidak semua orang memiliki kasih yang seperti ini. Kasih yang tidak mengharapkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Mungkin kita berpikir, untuk apa bersusah-payah mengurusi orang yang tidak kita kenal dan tidak waras seperti itu, sedangkan hidup kita saja sudah banyak masalah. Akan tetapi, Paulus, dalam nas hari ini, mengingatkan jemaat Korintus, agar mereka melakukan segala pekerjaan dalam kasih. Kasih berarti lebih mengutamakan kebutuhan dan kesejahteraan orang lain daripada kebutuhan atau kepentingan diri sendiri.

Allah sudah mencurahkan kasih yang besar dalam kehidupan kita dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi penebusan dosa kita. Allah menginginkan agar kita hidup di dalam kasih dengan melayani orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan. Kasih Allah menjadi nyata sewaktu kita mulai memedulikan orang lain dan menolong mereka. Melalui kita orang percaya, kasih Allah yang tidak kelihatan dapat dialami dan dirasakan oleh orang banyak.—IST

KASIH, SEPERTI KEHANGATAN, MEMANCAR DARI SEGALA SISI
DAN MEMENUHI SETIAP KEBUTUHAN SAUDARA KITA–Martin Luther
Jumat, 18 Januari 2013

SUPAYA KAMU HIDUP

Supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu. (Ulangan 4:1b)

Salah satu masalah utama yang dihadapi orang Israel adalah bagaimana mereka hidup dalam keatiaan kepada Tuhan. Bagaimana mereka dapat menahan diri dari godaan untuk mengikuti allah lain yang disembah oleh bangsa lain di sekitar mereka. Saat mereka hidup berdampingan dengan bangsa lain mereka mudah tergoda untuk mengikuti penyembahan berhala dan menyimpang dari iman mereka.

Ketetapan-ketetapan Tuhan sering mereka lupakan dan digantikan dengan ketetapan-ketetapan dewa-dewa lain. Untuk itu mereka diingatkan oleh Musa sebelum melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian.

Mereka diingatkan untuk setia dan memelihara ketetapan Tuhan. Tujuannya agar mereka dapat hidup di negeri yang diberikan Tuhan bagi mereka. "Supaya kamu hidup" yang diungkapkan Musa bukan sekedar dalam artian hidup-bernafas dan jantung yang berdetak tetapi lebih dalam dari itu, yakni agar mereka memiliki hidup dan kehidupan mereka dengan segala mutunya. Bukan sekedar bernyawa tetapi memiliki kebahagiaan, memiliki semangat dan keakraban dengan Tuhan. Agar mereka dapat menikmati kehidupan yang penuh berkat di tanah perjanjian.

Segala mutu kehidupan dapat mengalir ke dalam kehidupan kita jika kita pun menjaga dan memelihara ketetapan Tuhan dalam kehidupan kita. Kita akan merasakan keindahan hidup ketika kita mengasihi Tuhan dan sesama kita, ketika kita bekerja keras dan jujur, ketika kita menolong sesama, ketika kita melakukan segala tugas dengan penuh tanggung jawab.

Walaupun jalan hidup kita tidak selamanya akan terus indah namun mutu kehidupan dan penyertaan Tuhan akan selalu mengikuti kita yang memelihara ketetapanNya. Marilah... dengan memohon kekuatan dari Tuhan, kita berusaha untuk selalu menjalankan dan memelihara ketetapa-ketetapanNya di dalam hidup kita dimanapun kita berada. Amin!
Rabu, 16 Januari 2013

Bertahan Dalam Kebenaran


Matius 13:36-43

Dalam Matius 13 ini berisi mengenai pelayanan Yesus ketika mengajar banyak orang. Saat itu Yesus mencoba menjelaskan mengenai Kerajaan Sorga lewat perumpamaan. Tujuan utama dari kekristenan adalah Kerajaan Sorga. Dalam perikop ini, Yesus menjelaskan pengajaranNya dengan perumpamaan mengenai lalang dan gandum.

Pada ayat 37-39 menjelaskan arti dari perumpamaan yang Yesus sampaikan: penabur benih itu ialah Anak Manusia (Yesus), benih gandum itu ialah anak-anak Tuhan, lalang itu ialah orang-orang yang tidak bertobat, ladang itu ialan dunia, sedangkan penuai ialah para malaikat.

Dalam perumpamaan ini sebenarnya menjelaskan tentang satu keadaan 'perjalanan iman' seseorang, bahwa perjalanan itu tidaklah mulus. Satu prinsip yang harus dipegang oleh anak-anak Tuhan ialah prinsip bertahan, bertahan di dalam kebenaran. Sangat jelas dikatakan bahwa nanti pada saatnya akan dilakukan penuaian, gandum akan dimasukkan dalam lumbung (Kerajaan Sorga), sedangkan lalang akan masuk dalam neraka.

Dalam 'perjalanan iman' nantinya akan ada gesekan, dan gesekan yang ada seharusnya membuat kita semakin dewasa dalam iman (Amsal 27:17). Ada beberapa hal penting yang harus diingat dalam rangka mempertahankan kebenaran (Matius 7:1-5)
 
  • Berhenti menyalahkan orang lain.
  • Berhenti menghakimi.
  • Berhenti iri hati.

Inti dari pengajaran Yesus pada pasal 13 ialah keharusan untuk mempertahankan diri agar tetap tinggal dalam kebenaran hingga pada waktu Yesus datang kembali. Bertahan dalam kebenaran adalah hal yang sangat penting dalam kekristenan. Mengingat hal luar biasa yang akan kita terima (kerajaan Sorga), maka seharusnya kita berusaha untuk tetap bertahan.
 
Renungan Harian. Template Design By: SkinCorner from JackBook